Filosofi Dan Sejarah Ketupat Di Dalam Masyarakat Jawa

Ketupat atau dalam bahasa Jawa dan Sunda disebut dengan kupat adalah salah satu jenis makanan yang terbuat dari beras.
Sejarah dan filosofi ketupat
Ketupat lebaran
Sumber gambar: happyhomemaker88.wordpress.com
Ketupat seringkali kita jumpai saat hari raya Idul Fitri / lebaran.

Dan ketupat ini selalu menjadi ciri khas makanan lebaran yang selalu dipadukan dengan opor ayam atau juga dengan rendang.

Selain opor ayam, ketupat juga sering disajikan bersama soto. Baik itu soto ayam, soto Betawi, soto Bandung, coto Makassar atau soto Ambengan.

Ketupat bisa dijadikan sebagai hidangan pendamping pengganti nasi.

Dan ternyata ketupat bukan hanya sekedar makanan, karena ketupat memiliki sejarah, arti dan filosifi.

Sejarah dan Arti Ketupat

Adalah Sunan Kalijaga yang pertama kali memperkenalkan ketupat pada masyarakat Jawa.

Sunan Kalijaga membudayakan 2 kali BAKDA, yaitu bakda Lebaran dan bakda Kupat yang dimulai seminggu sesudah Lebaran.

Arti Kata Ketupat

Dalam filosofi Jawa, ketupat memiliki makna khusus. Ketupat atau KUPAT merupakan kependekan dari Ngaku
Lepat dan Laku Papat.

Ngaku lepat artinya mengakui kesalahan.

Laku papat artinya empat tindakan.

Ngaku Lepat
Tradisi sungkeman menjadi implementasi ngaku lepat (mengakui kesalahan) bagi orang jawa.

Sungkeman mengajarkan pentingnya menghormati orang tua, bersikap rendah hati, memohon keikhlasan dan ampunan dari orang lain.

Laku Papat
1. Lebaran.
2. Luberan.
3. Leburan.
4. Laburan.

Lebaran
Sudah usai, menandakan berakhirnya waktu puasa.

Luberan
Meluber atau melimpah, ajakan bersedekah untuk kaum miskin.
Pengeluaran zakat fitrah.

Leburan
Sudah habis dan lebur. Maksudnya dosa dan kesalahan akan melebur habis karena setiap umat islam dituntut untuk saling memaafkan satu sama lain.

Laburan
Berasal dari kata labur, dengan kapur yang biasa digunakan untuk penjernih air maupun pemutih dinding.
Maksudnya supaya manusia selalu menjaga kesucian lahir dan batinnya.

Filosofi Kupat - Lepet

Kupat
Kenapa mesti dibungkus janur?
Janur, diambil dari bahasa Arab Ja'a nur (telah datang cahaya ).

Bentuk fisik kupat yang segi empat ibarat hati manusia.

Saat orang sudah mengakui kesalahannya maka hatinya seperti kupat yang dibelah, pasti isinya putih bersih, hati yang tanpa iri dan dengki.

Kenapa? karena hatinya sudah dibungkus cahaya (ja'a nur).

Lepet
Lepet = silep kang rapet.
Mangga dipun silep ingkang rapet, mari kita kubur/tutup yang rapat.

Jadi setelah ngaku lepat, meminta maaf, menutup kesalahan yang sudah dimaafkan, jangan diulang lagi, agar persaudaraan semakin erat seperti lengketnya ketan dalam lepet.

Sumber: fanpage FB Madras Ribath

0 Response to "Filosofi Dan Sejarah Ketupat Di Dalam Masyarakat Jawa"

Post a Comment